Jacob van Helsdingen

Jacob P. van Helsdingen was a pilot died in his birthday. He was born in Surabaya and he has Indonesia-Dutch blood. He died in battle against Japanese jet which was more advanced. In that period, Japanese jet took over the air in the early of Pasific War. Born in 7 March 1907, and he was one of few Indo-Ducth men who was accepted in Koninklikje Militaire Academie in Breda, The Netherland in 1929. He was graduated in 1931 and he returned to Indonesia (was East Indies) as a lieutenant in KNIL. One year later he was placed in KNIL air force as Fokker CV pilot. He liked challenge and brave, and he did very brave manuevers. He was popular for his handsome face, also a playboy and loved to drive fast on Batavia and Soerabaia roads. The war broke in 1939 and in 1940, Holland was occupied by Germany. East Indies was in alert to face enemies in Pasific, The Japanese which was after South East and South Asia which were rich of natural resources. Van Helsdingen was mobilized on 1 July 1941 and promoted as Commander of Squadron 2, Group 5 Air Force, ML KNIL strengthened by Brewster Buffalo jet. This was his culmination of his carreer. Van Helsdingen’s squadron was positioned at Kallang air strip, SIngapore as part of ABDA-Com (American, British, Dutch and Australian Command) defensive circle to protect South East Asia from Japanese attack. Japanese attacked Singapore on 12 January 1942 by releasing bombers. In this war, van Helsdingen with his Buffalo jet could lock Japanese lightweight fighter Ki 27 Nates. His squadron also shot other three Ki-27. Japanese then released A6M Zero to guard the bombers.Zoro advance on 15 January made van Helsdingen’s squadron overwhelmed, as Zero was more advanced than Buffalo. Finally on 18 January, Squadron 2 was withdrawn to West Java and spreaded in Semplak, Andir (currently Husein Sastranegara airport) and Cililitan. Japanese then targetted East Indied. The first attacked was in Balikpapan which was rich of oil.Squadron 2 was sent to Kalimantan to strengthen Balikpapan, they based as confidential base Samarinda II, on 22 and 23 January 1942. Buffaloes of van Helsdingen squadrons guarded Martin B-10 bomber and as well attacking Japanese fleets at the off shore of Balikpapan. This assault could sink 2 Japanese ship and van Helsdingen could shoot Ki-27. For his success he was awarded with Knight Third Class from Militaire Willems Orde, which was a great achievement for Indo-Dutch soldier like him.

 

 

Sayang keberadaan pangkalan rahasia Samarinda II telah diketahui Jepang dan dan diserang habis-habisan oleh armada pesawat Jepang. Kalimantan pun jatuh. Kedatangan skuadron-skuadron Zero membuat skuadron van Helsdingen dan unit-unit udara lain harus menyingkir ke Jawa untuk mempersiapkan pertahanan terakhir. Dengan empat Buffalo yang tersisa, skuadron van Helsdingen bertahan di Lanud Andir menghadapi Jepang yang telah mendarat di pantai Eretanwetan, Jawa Tengah dan menyebar melalui serangan kilat ke seluruh penjuru pulau Jawa. Pada bulan-bulan yang kritis itu, sebenarnya pimpinan tertinggi KNIL yang telah mengungsi ke Australia, meminta van Helsdingen – dikarenakan pengalaman dan tanda jasa yang telah ia terima – untuk mengungsi ke Australia dan melatih kekuatan udara Belanda yang baru. Tapi van Helsdingen memilih untuk tetap di Andir mendukung pasukan darat KNIL yang sedang terpepet di Buitenzorg (Bogor) dan terancam mundur ke Bandung. Model kit pesawat pemburu Brewster Buffalo milik KNIL, 1942. Seperti inilah kemungkinan rupa pesawat Buffalo yang digunakan van Helsdingen. Tanggal 7 Maret 1942, hari dimana Van Helsdingen genap berusia 35 tahun,ia telah memilih empat pilot sukarelawan untuk menerbangkan 4 Buffalo yang tersisa, dikarenakan pimpinan tertinggi KNIL bersikeras untuk menerbangkan van Helsdingen ke Cilacap untuk selanjutnya berlayar ke Australia. Tapi di detik-detik akhir van Helsdingen berubah pikiran, ia meminta salah seorang pilot yang telah menikah untuk mundur dan mengungsi ke Australia, suatu hal yang aneh mengingat saat itu van Helsdingen sendiri telah menikah. Di sinilah karakter Suroboyoan dari van Helsdingen yang nekat dan pemberani tanpa tedeng alin-aling terlihat. Akhirnya datang berita bahwa pasukan darat KNIL mulai terdesak di Lembang dan membutuhkan bantuan udara. Van Helsdingen dan 3 pilot lain pun segera lepas landas dengan 4 Buffalo yang tersisa ke Lembang. Di sana ternyata udara telah dikuasai oleh Zero-Zero Jepang. Salah seorang pilot, Letnan Diebel tertembak tangki bahan bakarnya saat bertarung dengan sebuah Zero, dan harus kembali ke Andir dikawal satu Buffalo lain. Jadilah van Helsdingen dan satu pilot lagi Gerrard Brugink bertarung (dogfight) di atas Lembang. Dalam kesempatan ini van Helsdingen di luar perkiraan berhasil menembak jatuh sebuah Zero, padahal seperti yang diketahui, kemampuan pesawat Buffalo bukanlah lawan yang sepadan dari Zero milik Jepang. Tetapi malang, saat menanjak untuk mengejar Zero lain, van Helsdingen dikejar sebuah Zero dan mengunci Buffalo van Helsdingen serta menembaknya jatuh. Pesawat van Helsdingen terakhir disaksikan oleng dan mengeluarkan asap panjang. Reruntuhan pesawat dan tubuh van Helsdingen tak pernah ditemukan hingga kini. Keberanian pilot Belanda kelahiran Surabaya ini membuatnya dianugerahi Militaire Willems Orde yang kedua kalinya oleh pemerintah Belanda, bersama dengan Laksamana Karel Doorman yang gugur di Pertempuran Laut Jawa. Kapten Jacob van Helsdingen, pilot pemberani kelahiran Surabaya. (sumber : dutcheastindies.webs.com Jacob Pieter Van Helsdingen gugur di Lembang pada 7 Maret 1942, di hari ulang tahunnya yang ke-35 tahun.